Arsip

Archive for the ‘Tanya Jawab’ Category

Bolehkah Kita Percaya Pada Jin Islam

Oktober 7, 2008 Andry Sucipto Komentar dimatikan

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Saya ingin menanyakan apakah kita sebagai muslim boleh menggunakan harta yang didapat dari jin Islam sedang kita tidak tau dari mana harta tersebut.

Karena ada sesuatu yang meragukan saya sebab ada saudara yang percaya bahwa kita boleh menggunakan harta tersebut karena harta tersebut tidak ada pemiliknya sedang dia tetap rajin menjalankan semua kewajiban sebagai hamba Allah dan melakukan amalan-amalan dari jin tersebut yang berupa pembacaan ayat Al-qur’an.

Dhemas

Jawaban

Assalamu ‘alakum warahmatullahi wabarakatuh,

Semenjak zaman Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sesunguhnya jasa para jin tidak diperlukan lagi buat umat manusia. Beliau adalah nabi yang secara khusus mendapatkan kekuasaan hingga ke tingkat bangsa jin. Sedangkan nabi dan umat yang lain, tidak diberikan ‘fasilitas’ itu.

Di hadapan nabi yang juga raja ini, para jin harus tunduk dan patuh, karena beliau memang punya kekuatan yang melebihi kekuatan para jin. Oleh sebab itu, tidak ada seorang jin pun yang berani menipu atau melawan beliau.

Berbeda dengan kita yang tidak diberikan kekuasaan untuk mengatur bangsa jin. Posisi kita tentu berbeda dengan posisi nabi Sulaiman. Kita lebih mudah ditipu atau dikelabuhi oleh bangsa jin.

Mereka punya kekuatan yang di luar jangkauan manusia. Sementara kita hanya mampu sekedar berlindung kepada Allah dari kejahatan mereka. Jadikita tidak bisa secara aktif melakukan berbagai langkah untuk mematikan mereka, juga tidak bisamengejar mereka ke sarangnya untuk kemudianmelakukan pembasmian.

Seandainyaadajin yang melakukan kejahatan, maka kita tidak diberi perangkat oleh Allah SWT untuk menegakkan hukum. Mau ke mana mengejarnya? Bayangkan kalau ada ribuan jin jahat melakukan kejahatan, bagaimana cara kita memenjarakannya?

Yang diajarkan oleh Rasulullah SAW hanya sekedar berlindung dari kejahatan para jin, sebagaimana yang kita baca dari dua surat yang terakhir di dalam Al-Quran. Kita tidak diberi perangkat untuk bisa mematikan dan membungi hangus mereka.

Oleh karena itu, kita tidak diberikan peluang oleh Allah SWT untuk melakukan proyek-proyek kerjasama dengan bangsa jin, meski mereka mengaku beragama Islam.

Kalau pun ada kerjsama, mungkin terjadi secara tidak langsung. Misalnya, ada ulama dari kalangan manusia yang mengajar ilmu agama, lalu sebagian dari bangsa jin ikut duduk mendengarkan dan mengambil manfaat dari majelis ilmu itu. Hal seperti ini boleh dibilang kerjasama, tetapi sifatnya tidak langsung.

Sedangkan kerjasama yang sifatnya langsung, rasanya belum pernah kita temukan contohnya, bahkan dari nabi Muhammad SAW sekali pun. Beliau SAW hanya pernah diundang oleh bangsa jin untuk menyampaikan ilmu agama saja. Itu pun hanya untuk satu malam saja.

Namun dalam sirah nabawiyah, kita belum menemukan kerjasama dakwah atau apapun dengan bangsa jin. Padahal Rasulullah SAW menjalani ratusan pertempuran dalam hidupnya. Logika sederhana kita akan mengatakan, seharusnya beliau gunakan saja jasa para jin. Toh banyak jin yang beragama Islam dan menjadi murid beliau.

Namun belum pernah ada riwayat yang menyebutkan bahwa sebuah perang diikuti oleh bangsa jin. Kalau pun ada bantuan dari makhluq ghaib, bukan jin melainkan malaikat. Sebagaimana yang kita baca dalam ayat berikut ini:

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.(QS. At-Taubah: 36)

Oleh karena itu, kami kurang sependapat bila ada orang yang ingin melakukan kerjasama dengan bangsa jin, bahkan meski jin itu mengaku sebagai muslim. Sebab Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkannya atau mencontohkannya.

Apalagi mengingat bahwa jin itu bisa saja mengaku muslim, tetapi belum tentu pengakuannya benar. Bahkan meski dia benar-benar muslim sekalipun, belum tentu kualitas keIslamannya baik. Sebagaimana manusia muslim, ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Maka bangsa jin juga demikian. Belum tentu yang mengaku muslim juga berakhlaq Islami. Banyak dari mereka yang fasik, jahil, bandel dan rusak akhlaqnya.

Maka tidak pernah ada jaminan bahwa kerjasam dengan jin itu akan memberikan manfaat. Sedangkan kerugiannya sudah banyak terjadi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Categories: Tanya Jawab

Makna Sholat dan Perintahnya

Oktober 7, 2008 Andry Sucipto Komentar dimatikan

Assalamu ‘alaikum wr, wb.

1. Apa sih makna kata sholat dalam bahasa arab? Dan bagaimana definisi para ulama tentang shalat?

2. Kapan ibadah shalat diperintahkan pertama kali?

3. Sebanyak apa perintah shalat di dalam Al-Quran?

Abdullah Ahmad Murtado
aamortadho@yahoo at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara bahasa, shalat itu bermakna doa. Shalat dengan makna doa dicontohkan di dalam Al-Quran Al-Karim pada ayat beikut ini.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (mendo’alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do’a) kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. At-Taubah: 103)

Dalam ayat ini, shalat yang dimaksud sama sekali bukan dalam makna syariat, melainkan dalam makna bahasanya secara asli yaitu berdoa.

Secara syariat, istilah shalat bermakna: Serangkaian ucapan dan gerakan yang tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai sebuah ibadah ritual.

Pertama Kali Perintah Shalat

Sebelum shalat lima waktu yang wajib disyariatkan, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para shahabat sudah melakukan ibadah shalat. Hanya saja ibadah shalat itu belum seperti shalat 5 waktu yang disyariatkan sekarang ini.

Barulah pada malam mi`raj disyariatkan shalat 5 kali dalam sehari semalam yang asalnya 50 kali. Persitiwa isra` ini dicatat dalam sejarah terajdi pada 27 Rajab tahun ke-5 sebelum peristiwa hijrah nabi ke Madinah.Sebagaimana tertulis dalam hadits nabawi berikut ini:

Dari Anas bin Malik ra. “Telah difardhukan kepada Nabi SAW shalat pada malam beliau diisra`kan 50 shalat. Kemudian dikurangi hingga tinggal 5 shalat saja. Lalu diserukan, “Wahai Muhammad, perkataan itu tidak akan tergantikan. Dan dengan lima shalat ini sama bagi mu dengan 50 kali shalat.”(HR Ahmad, An-Nasai dan dishahihkan oleh At-Tirmizy)

Sebagian dari mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa shalat disyariatkan pada malam isra` namun tahunnya bukan 5 tahun sebelum hijrah, melainkan pada tanggal 17 Ramadhan 1, 5 tahun sebelum hijrah nabi.

Perintah Shalat Dalam Al-Quran

Ada banyak sekali perintah untuk menegakkan shalat di dalam Al-Quran. Paling tidak tercatat ada 12 perintah dalam Al-Quran lafaz “Aqiimush-shalata” yang bermakna “Dirikanlah Shalat” dengan fi`il Amr (kata perintah) dengan perintah kepada orang banyak (khithabul Jam`i). Yaitu pada surat:

  • Al-Baqarah ayat 43, 83 dan110
  • Surat An-Nisa ayat 177 dan 103
  • Surat Al-An`am ayat 72
  • Surat Yunus ayat 87
  • Surat Al-Hajj: 78
  • Surat An-Nuur ayat 56
  • Surat Luqman ayat 31
  • Surat Al-Mujadalah ayat 13
  • Surat Al-Muzzammil ayat 20.

Ada 5 perintah shalat dengan lafaz “Aqimish-shalata” yang bermakna “dirikanlah shalat” dengan khithab hanya kepada satu orang. Yaitu pada:

  • Surat Huud ayat 114
  • Surat Al-Isra` ayat 78
  • Surat Thaha ayat 14
  • Surat Al-Ankabut ayat 45
  • Surat Luqman ayat 17.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Categories: Tanya Jawab

Kehidupan Seks Pelaut dan Musyafir

Oktober 7, 2008 Andry Sucipto Komentar dimatikan

Assalaamu’alaikum wr wb

Ust. Sarwat yang saya hormati, semoga ustadz sekeluarga dilimpahi keberkahan dari Allah SWT. Dan semoga senantiasa diberi kesehatan agar tetap dapat mengasuh rubrik yang sangat bermanfaat ini.

Pertanyaan saya:

1. Bagaimana kehidupan seks para pelaut atau musafir yang mereka sampai berbulan-bulan meninggalkan isteri? Akankah onani menjadi halal bagi mereka? Karena banyak orang-orang yang bekerja di luar daerah bahkan hingga ke luar negri dalam waktu yang lama.

2. Bagaimana pula dengan para sahabat yang sering mendapat tugas berdakwah atau berperang dalam waktu yang lama?

Terima kasih atas jawabannya. Jazakallahu khoiron buat eramuslim. Com yang telah menayangkannya. Akhirul kalam,

Wassalaamu’alaikum wr wb

Ari

Read more…

Categories: Tanya Jawab

Asal Mula Rukun Islam

Oktober 7, 2008 Andry Sucipto Komentar dimatikan

Assalamu’alaikum Wr Wb

Pak Ustadz, Sejak kecil saya diajarkan tentang Rukun Iman dan urutannya yang telah fixed. Tapi baru sekarang saya sadar, bahwa sampai sekarang saya tidak pernah menanyakan asal muasalnya.. Apakah ada urutan rukun iman itu di Al-Quran atau mungkin di hadist Rasul? Jika ada, bisakah bapak menjelaskan darimana referensi tersebut..

Terus terang, saya pribadi kurang yakin dengan hadist-hadist Rasul yang beredar sekarang, karena kita sama sekali tidak tahu keabsahannya. Bisa saja orang-orang kafir menciptakan cerita-cerita dan mengatakan bahwa itu adalah hadis yang dapat dipercaya. Terima kasih atas perhatiannya.

Wass Wr Wb

Bayu
bayu21 at eramuslim.com

Jawaban

Asslamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh,

Rukun iman yang enam itu secara lengkap terdapat di dalam sebuah hadits yang amat terkenal dan juga shahih. Keshahihannya tidak diragukan lagi oleh para ulama. Bahkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menempatkannya dalam urutan pertama dalam susunan hadits arba’in (40 hadits utama).

Salah satu petikannya adalah:“Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan kepada Qadar baik dan buruk-Nya dari Allah taala. (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Mengapa Ragu?

Sebenarnya anda tidak perlu ragu-ragu dengan hadits nabawi yang beredar sekarang maupun di masa lalu. Sebab sejak fajar Islam menyingsing di masa lalu, Allah sudah menjamin keaslian agama ini dari kemungkinan dipalsukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Shahih tidaknya suatu hadits bisa dengan mudah kita lihat dari perawinya. Lagi pula kita masih punya banyak ulama hadits, yang bisa dengan mudah kita tanya dan minta penjelasan tentang keshahihan suatu hadits.

Khususnya dalam pemeliharaan keaslian sunnah nabawiyah, Allah SWT berkenan membangkitkan dari putera-putera Islam, orang-orang yang menjadi pemelihara, pembela dan pelindungnya. Mereka telah melakukan penelusuran riwayat tiap-tiap hadits nabawi yang ada. Bahkan mereka berhasil mendirikan sebuah disiplin ilmu mandiri yang kita kenal dengan ilmu riwayat.

Ilmu seperti ini tidak pernah ditemukan sebelumnya dan sesudahnya, bahkan di luar dunia Islam sekalipun. Bayangkan, bagaimana di masa itu dengan media informasi yang terbatas, para ulama mengadakan tour abadi untuk mengejar keshahihan sebuah hadits, dari satu negeri ke negeri yang lain. Dengan menggunakan metodologi yang nyaris tidak pernah terpikirkan oleh ilmuwan dari dunia barat.

Intinya, mereka menggunakan dua parameter. Pertama, dengan melihat kondisi ke-dhabit-an perawi. Ini untuk memastikan apakah seorang yang meriwayatkan sebuah hadits memang seorang yang punya kemampuan untuk menghafal hadits yang disampaikannya itu dengan benar, baik pada matan (redaksi) maupun pada jalur (sanad) periwayatannya. Adakah seorang perawi memenuhi segala macam persyaratan yang sangat berat itu.

Dari sini akan ketahuan apakah riwayat suatu hadits benar-benar bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya atau tidak. Bila perawi ketahuan sebagai orang yang kurang hafalannya, atau tidak mampu menyebutkan jalur periwayatannya secara pasti, maka haditsnya itu akan dibuang ke tempat sampah.

Apalagi bila sampai ketahuan bahwa hadits itu tidak punya asal-usul, alias hadits palsu. Tentu dengan mudah akan segera ketahuan.

Kedua, paramater yang digunakan adalah sisi ‘adaalatur-rawi, yaitu penilaian terhadap pribadi si perawi. Benarkah dirinya seorang muslim yang serius menjalankan agama atau tidak? Yang dinilai adalah aspek aqidah, syariah dan akhlaq si perawi. Bahkan termasuk muru’ah yang sering dianggap agak sepele, ternyata turut dijadikan ukuran keshahihan suatu hadits.

Seringkali disebutkan bahwa bila seorang perawi punya akhlaq yang kurang baik, atau mengerjakan hal-hal yang mengurangi muru’ah-nya, maka nilainya akan dikurangi secara sangat signifikan.

Para perawi itu dari level terakhir hingga ke level pertama, yaitu di tingkat shahabat sebelum sampai kepada Rasulullah SAW, lalu didata dan ditabulasi sedemikian rupa dalam ratusan kitab terkenal. Kondisi hafalan mereka, kemampuan mereka dalam menyimpan, bahkan sifat-sifat mereka, semua terdata dengan rapi di dalam database para ulama.

Kitab-kita yang memuat data para perawi itu dikenal sebagai kitab rijalul hadits. Kitab-kitab seperti ini barangkali kurang populer di kalangan awam. Bahkan kalau anda cari di toko buku di Indonesia, penjualnya pun akan kebingungan. Namun ketahuilah, bahwa semua data mereka sudah tercatat dengan rapi.

Tinggal para ulama hadits melakukan penelitian atas masing-masing hadits itu dengan dilakukan penilaian pada para perawinya. Namun di dalam catatan mereka, tiap hadits itu sudah terlacak dengan jelas peta penyebarannya, mulai dari mulut Rasulullah SAW ke generasi pertama (shahabat), lalu ke generasi kedua (tabi’in), lalu ke generasi ketiga (atba’ut-tabi’in), lalu ke generasi berikutnya lagi. Tugas para ulama di masa itu tinggal melakukan dua sisi penilaian utama dari masing-masing orang itu. Salah satu hadits itu adalah hadits berikut ini:

Rasululah SAW bersabda,”Bila salah seorang dari kamu bangun dari tidurnya, maka hendaklah dia mencuci tangannya, karena dia tidak tahu semalam tangannya berada di mana”.

Di tangan para ulama sudah ada peta penyebaran hadits itu. Pada level pertama (tabaqah ula), hadits inidisampaikan oleh Rasulullah SAW kepada para shahaat. Tercatat ada 5 orang shahabat yang berbeda yang menyampaikan kembali hadits ini. Mereka adalah:

  1. Abu Hurairah ra
  2. Ibnu Umar ra
  3. Jabir bin Abdillah ra
  4. Aisyah ra
  5. Ali bin Abi Thalib ra

Kemudian, masing-masing shahabat meriwayatkan kembali hadits yang pernah didengarnya langsung dari Rasulullah SAW. Salah seorang dari shahabat itu, yaitu Abu Hurairah ra kemudian meriwayatkan hadits ini kepada orang lain. Tercatat ada 13 orang pada level kedua yang mendapatkan hadits ini dari Abi Hurairah. Mereka adalah para tabi`in.

Kemudian hadits ini bisa dilacak lagi ke bawah, di mana kita bisa dengan mudah mengetahui bahwa ke-13 orang ini lalu menyebar ke berbagai penjuru dunia. Dalam database tercatat dari 13 orang itu ada 8 orang yang menerima hadits ini dan tinggal di Madinah, ada satu orang tinggal di Kufah, ada 2 orang tinggal di Bashrah, satu orang tinggal di Yaman dan seorang lagi tinggal di Syam.

Kemudian ke 13 tabi`in ini lalu meriwayatkan lagi hadits itu kepada generasi berikutnya (level ketiga), yang kita sebut sebagai atba`ut-tabi`in. Dan jumlah mereka menjadi 16 orang. Detailnya adalah ada 6 orang tinggal di Madinah, 4 orang di Bashrah, 2 orang di Kufah, 1 orang di Makkah, 1 orang di Yaman, 1 orang di Khurasan dan 1 orang di Himsh Syam.

Maka amat mustahil ke 16 orang yang domisilinya terpencar-pencar di beragam ujung dunia itu pernah berkumpul bersama pada suatu saat untuk membuat hadits palsu bersama yang redaksinya sama. Atau mustahil pula mereka masing-masing di rumahnya membuat hadits lalu kebetulan semua bisa sama sampai pada tingkat redaksinya.

Padahal ke 16 orang itu baru dari jalur Abu Hurairah saja. Apabila jumlah rawi itu ditambah dengan yang dari ke 4 shahabat lainnya, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.

Pesan Buat Para Pengingkar Hadits
Para pengingkar hadits dari kalangan muslimin sebenarnya perlu membuka mata untuk tahu dari manakah sebenarnya pemikiran keliru itu mereka lahap. Tidak lain dari para orientalis yang sejak awal sudah punya niat tidak baik terhadap Islam.

Seharusnya mereka perlu sedikit lebih mawas diri untuk belajar dan memperdalam ilmu agama secara benar, agar tidak terlalu mudah terlena dengan bujuk rayu musuh Islam.

Sayangnya kebanyakan mereka justru terlalu awam dengan ajaran Islam, ditambah terlalu mudah terpesona dengan apa yang lahir dari mulut musuh-musuh Islam. Seolah-olah barat itu sumber kebenaran satu-satunya.

Wassslamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Categories: Tanya Jawab